fanzz
Senin, 08 Juli 2013
Selasa, 04 Juni 2013
MENGGALI ISLAM KONTEMPORER
-->
Judul Buku : Studi Islam Kontemporer
Penulis : M. Rikza Chamami, MSI
Penerbit : Pustaka Rizki Putra
Tebal Buku : 227 Halaman
Cetakan Pertama : Desember 2012
Membahas
tentang Islam memang tiada habisnya. Islam sebagai sebuah agama tidak akan
lepas dari realitas kognitif yang berisi peneguhan teologi dan etika.
Keberadaan ini akan membantuk pola komunitas kognitif yang menyatu dengan
prinsip agama yang mereka yakini.
Islam, ketika diyakini sebagai paham formal (iman) akan melahirkan pada
keyakinan terhadap Nabi dan Al-Qur’an tanpa pernah ada keraguan sedikitpun
terhadapnya. Berbeda ketika Islam dipandang sebagai ilmu pengetahuan tentu akan
berpegang teguh pada prinsip yang rasionalistik, sehingga banyak memunculkan
argumen-argumen baru yang terkadang bisa mengendorkan iman.
Hal tersebut dikarenakan agama menggunakan pola berfikir normatif dan
cenderung teologis, sedangkan ilmu pengetahuan berpikir kritis dan cenderung
rasionalistik. Kondisi seperti inilah yang mendorong M. Rikza Chamami, MSI
untuk membuat konstruksi baru dalam memaknai studi Islam dengan berhaluan pada
nalar teologis dengan perspektif yang beragam, baik normatif, historis,
filosofis maupun rasionalis.
M. Rikza Chamami, MSI, dalam bukunya yang berjudul “Studi Islam
Kontemporer” memaparkan warna studi Islam dalam empat pola: studi peradaban
Islam, studi filsafat, serta studi ruh
sumber Islam. Perkembangan sejarah peradaban Islam mengalami pasang suurut. Hal
ini menunjukkan betapa besarnya Islam. Dalam kondisi yang terjepit dan ancaman
disintegrasi, Islam masih tetap eksis hingga sekarang. Kejayaan yang pernah
dimiliki Islam terbukti dengan adanya pembuatan momentum propaganda dan
kegiatan ekspansi.
Kejayaan Islam tidak akan terlepas dari peradaban dan kebudayaan Islam itu
sendiri. Banyak kota-kota yang berhasil menciptakan peradaban-peradaban yang bernafaskan Islam mulai dari Baghdad
(Irak), Kairo (Mesir), Isfahan (Persia), bahkan sampai Istambul (Turki). Ini
bisa dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan umat Islam terdahulu yang berupa
tempat ibadah, perpustakaan, bangunan istana dan tempat sosial.
Berbagai studi filsafat turut mewarnai kajian Islam, mulai dari
fenomenologi, postmodernisme, bahkan sampai materialisme. Al-Qur’an juga tak
mau ketinggalan. Ia merupakan sumber ajaran Islam yang dipegang teguh oleh umat
Islam. Di dalamnya terdapat janji, ancaman, peringatan, dan juga sejarah sehingga
sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam.
Selanjutnya, kajian Islam disusul dengan munculnya Al-Hadits sebagai sumber
ajaran kedua setelah Al-Qur’an. Akan tetapi kedatanganya tidak disambut gembira
oleh kalangan orientalis. Mereka menganggap bahwa Al-Hadits hanyalah ucapan
Nabi dan dianggap sebagai alat politik belaka. Akan tetapi hal tersebut
akhirnya diluruskan oleh kaum muslimin.
Munculnya Islam di Indonesia telah mengalami akulturasi dan asimilasi dari
budaya Jawa. Berbeda dengan Islam di Timur Tengah (tempat munculnya Islam
pertama kali). Hal tersebut bisa diambil kesimpulan bahwasanya Islam itu mudah
diterima dikalangan manapun termasuk di Timur Tengah, Indonesia, dan seluruh
penjuru dunia.
Buku ini telah mampu memberikan pemaknaan Islam yang beranekaragam serta
mengaji Islam dari berbagai aspek, sehingga sedikit banyak dapat memberikan
inspirasi para Mahasiswa hususnya untuk bangga menjadi umat Islam dan terus
mendalaminya. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya jika uraian dalam buku
dipaparkan lebih panjang lagi, karena uraian dari buku ini terlalu singkat.
Selasa, 14 Mei 2013
BAYI MUNGIL YANG TERBUANG
Tradisi turun temurun dari zaman nenek moyang kini masih saja dilakukan
oleh orang-orang di pedesaan. Keyakinan-keyakinan orang jaman dahulu masih
sangat melekat di hati mereka entah karena sangking patuhnya mereka terhadap segala
ucapan pendahulu-pendahulu mereka ataukah karena ingin melestarikan tradisi
leluhurnya. Terkadang kejadian teersebut tidak masuk akal, orang-orang sekarang
biasa menyebutnya dengan istilah “klenik”. Khusus yang satu ini, membuang bayi
dengan weton sama masuk dalam kategori “klenik” atau bukan tergantung pada
keyakinan masing-masing.
M. Rikza, lahir pada hari kamis kliwon, 20 Maret 1980, ia dilahirkan dari
masyarakat yang masih memegang teguh tradisi kuno. Si bayi mungil tersebut berasal dari keluarga menengah kebawah yang
tinggal di area home industry sandal. Semasa kecilnya ia sangat gemar bermain
dolanan-dolanan khas Jawa. Selain itu, ia juga sangat tertarik dengan ilmu-ilmu
keagamaan dan lain sebagainya. Bayi mungil ini dibesarkan oleh orang tuanya
dalam keadaan yang serba pas-pasan. Hidupnya pun penuh dengan keserderhanaan. Dalam
kondisi serba kekurangan, tekatnya untuk menjadi orang sukses semakin meningkat
sehingga ia mempunyai prinsip bahwa “miskin boleh tetapu sukses harus”
Kelahiran bayi dengan weton sama dengan orang tuanya diyakini bahwa si
anak nanti ketika dewasa akan selalu bertengkar dengan orang tuanya sehingga ia
harus dibuang terlebih dahulu sampai nanti ada orang yang menemukanya. “Saya
lahir pada hari Kamis kliwon yang kebetulan sama dengan weton ibu saya. Saya
dibuang di atas engkrak sebesar tubuh saya dan ditemukan oleh mbah saya (mbah
Saudah)” tutur Rikza. Secara tradisi hak asuh yang semula dari orang tua
berpindah pada orang yang menemukanya. Alhasil, bayi mungil tersebut, mempunyai
kedekatan yang begitu dekat dengan orang tuanya, “saya selalu mengikuti
kemanapun orang tua saya pergi, mulai dari ngaji, silaturrahim, bahkan ziarah-ziarah
ke kiai-kiai”. Tutur Rikza.
Minggu, 12 Mei 2013
Bayi Mungil Yang Terbuang
Tradisi turun temurun dari zaman nenek moyang kini masih saja dilakukan
oleh orang-orang di pedesaan. Keyakinan-keyakinan orang jaman dahulu masih
sangat melekat di hati mereka entah karena sangking patuhnya mereka terhadap
segala ucapan pendahulu-pendahulu mereka ataukah karena ingin melestarikan
tradisi leluhurnya. Terkadang kejadian teersebut tidak masuk akal, orang-orang
sekarang biasa menyebutnya dengan istilah “klenik”. Khusus yang satu ini,
membuang bayi dengan weton sama masuk dalam kategori “klenik” atau bukan
tergantung pada keyakinan masing-masing.
M. Rikza, lahir pada hari kamis kliwon, 20 Maret 1980, ia dilahirkan dari
masyarakat yang masih memegang teguh tradisi kuno. Kelahiran bayi dengan weton
sama dengan orang tuanya diyakini bahwa si anak nanti ketika dewasa akan selalu
bertengkar dengan orang tuanya sehingga ia harus dibuang terlebih dahulu sampai
nanti ada orang yang menemukanya.
“Saya lahir pada hari Kamis kliwon yang kebetulan sama dengan weton ibu
saya. Saya dibuang di atas engkrak sebesar tubuh saya dan ditemukan oleh mbah
saya (mbah Saudah)” tutur Rikza. Secara tradisi hak asuh yang semula dari orang
tua berpindah pada orang yang menemukanya. Alhasil, bayi mungil tersebut,
mempunyai kedekatan yang begitu dekat dengan orang tuanya, “saya selalu
mengikuti kemanapun orang tua saya pergi, mulai dari ngaji, silaturrahim,
bahkan ziarah-ziarah ke kiai-kiai”. Tutur Tikza
Selasa, 23 April 2013
Kurangnya Tenaga Kebersihan kampus II IAIN Walisongo
Kurangnya Tenaga Kebersihan di Kampus II IAIN Walisongo
Ngaliyan-Agus Budi seorang petugas bersih-bersih di kampus II IAIN Walisongo Semarang mengatakan perlu adanya penambahan tenaga kerja (pembersih), sehingga akan menciptakan lingkungan kampus yang jauh dari sampah-sampah yang beterbangan. Hal itu disampaikan Agus Budi ketika saya temui saat Ia menjalankan kegiatan rutinitas sehari-harinya. Selasa(16/3).
Ia menjelaskan bahwa, halaman kampus II IAIN Walisongo Semarang yang dinilai cukup luas dengan petugas bersih-bersih yang berjumlah 7 orang menjadikan Ia merasa kuwalahan dalam membersihkan halaman kampus tersebut. Adapun perincian dari petugas bersih-bersih yang berjumlah 7 tersebut adalah: di gedung N satu orang, gedung K satu orang, gedung D satu orang, gedung Q satu orang, ruang PKM satu orang, dan ruang dekanat sejumlah 2 orang. Ujarnya.
Saya harus berada di kampus ini mulai dari jam 6 pagi dan meninggalkan kampus paling akhir, yaitu ketika semua orang telah meninggalkan kampus. Agar di pagi hari halaman kampus sudah terlihat bersih biasanya saya menyapu halaman kampus di waktu sore hari sebelum saya pulang. Kata Agus Budi.
Langganan:
Postingan (Atom)
